Liputan Kegiatan Maulid Nabi 2025 di SMP Labschool Jakarta Danisa Ahsani Raras Andaruni 10 8C
**Laporan Lengkap Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW SMP
Labschool Jakarta: Meneladani Pesona Abadi Sang Pembawa Cahaya**
**Jakarta, 19 September 2025** – Fajar baru saja menyingsing
ketika kompleks SMP Labschool Jakarta sudah ramai oleh aktivitas yang tidak
biasa. Sejak pukul 06.00 WIB, para siswa yang biasanya datang dengan seragam
putih biru, kali ini tampil dengan busana muslim terbaik mereka. Kemeja putih
dipadukan dengan sarung bermotif klasik untuk siswa laki-laki, sementara siswi
mengenakan mukena dan hijab yang rapi. Suasana istimewa terpancar jelas di
wajah setiap orang yang hadir—para guru, staf, siswa, dan perwakilan orang
tua—semua bersiap untuk merayakan hari besar Islam, Maulid Nabi Muhammad SAW
1447 H.
Acara ini diselenggarakan secara khidmat namun meriah di
halaman sekolah yang telah ditata sedemikian rupa. Panitia yang terdiri dari
pengurus OSIS dan perwakilan guru telah menyulap lapangan upacara menjadi
auditorium terbuka yang nyaman. Karpet merah membentang luas, diapit oleh
tenda-tenda putih yang melindungi jamaah dari terik matahari pagi. Di sisi
panggung utama, banner besar bergambar kaligrafi Nabi Muhammad menghiasi sudut
dengan dominasi warna hijau dan emas, menciptakan atmosfer religius yang kuat.
**Pembukaan dengan Lantunan Suci dan Sambutan Penuh Makna**
Tepat pukul 06.30 WIB, acara dibuka dengan pembacaan ayat
suci Al-Qur'an. Seorang siswa berprestasi tampil ke depan dengan penuh percaya
diri. Suaranya yang merdu dan tajwid yang tepat mengalunkan Surah Ali-Imran
ayat 103, "Wa'tashimu bihablillahi jami'an wala tafarraqu..." (Dan
berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu
bercerai-berai...). Ayat ini dipilih secara khusus sebagai pengingat akan
pentingnya persatuan dan ukhuwah dalam Islam, nilai-nilai yang diperjuangkan
oleh Rasulullah sepanjang hidupnya.
Selanjutnya, seluruh hadirin dipersilakan berdiri untuk
bersama-sama melantunkan Asmaul Husna. Dipandu oleh guru Pendidikan Agama Islam
sekolah tersebut, ratusan suara menyatu dalam harmoni yang menggetarkan jiwa.
Setiap nama Allah diucapkan dengan penuh penghayatan, dari Ar-Rahman hingga
Ash-Shabur. Moment ini tidak hanya menyentuh secara spiritual tetapi juga
menunjukkan kekuatan kolektif komunitas sekolah dalam mengagungkan Sang
Pencipta. Banyak peserta yang terlihat menitikkan air mata, tersentuh oleh kedalaman
makna yang terkandung dalam setiap nama Allah yang mereka ucapkan.
Dalam sambutannya, Ketua POMG menyampaikan apresiasi
setinggi-tingginya atas terselenggaranya acara ini. "Atas nama seluruh
orang tua murid, kami mengucapkan terima kasih kepada pihak sekolah yang telah
memfasilitasi acara penuh berkah ini. Di era di mana generasi muda banyak
terpapar pengaruh negatif, figur teladan seperti Rasulullah harus terus hadir
dalam keseharian mereka. Mari kita jadikan momen ini sebagai pengingat untuk
menanamkan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan keluarga kita masing-masing,"
ujarnya dengan penuh semangat.
Sambutan kemudian dilanjutkan oleh Kepala SMP Labschool
Jakarta. Dengan bahasa yang lugas dan penuh wibawa, beliau menekankan
pentingnya figur teladan bagi generasi muda. "Anak-anakku yang saya
banggakan, Rasulullah SAW adalah contoh terbaik dalam segala aspek kehidupan.
Mulai dari cara bergaul, mencari ilmu, hingga berbakti kepada orang tua. Di
zaman yang serba digital ini, kita justru semakin membutuhkan panutan yang
nyata. Pesona akhlak beliaulah yang harus kita tiru, melebihi pesona artis atau
publik figur manapun. Jadilah seperti Nabi—smart, berwibawa, penuh kasih, dan
berakhlak mulia," pesannya yang disambut tepuk tangan meriah seluruh
hadirin.
**Penampilan Sentuhan Hati "Muhammadku"**
Sebelum masuk ke ceramah utama, sebuah penampilan spesial
disuguhkan oleh paduan suara siswa-siswi pilihan yang tergabung dalam grup
"Nada Ukhuwah Labschool". Mereka tampil dengan kostum serba putih,
membawakan lagu "Muhammadku" dengan aransemen yang harmonis dan penuh
penghayatan.
*Muhammadku, cahayamu selalu bersinar...*
*Pelajaran yang kau berikan, selalu terpatri di hati...*
*Takkan pernah terlupakan, jasamu bagi kami...*
Lirik yang syahdu dan penuh kecintaan kepada Rasulullah itu
berhasil menyentuh relung hati semua yang hadir. Para penyanyi menyanyikan
dengan penuh emosi, seakan menghadirkan kembali sosok Nabi yang mereka cintai.
Banyak mata yang berkaca-kaca, termasuk para guru dan orang tua yang hadir.
Penampilan ini bukan sekadar hiburan, tetapi sebuah persembahan yang tulus dari
hati para siswa untuk Nabi mereka. Moment ini berhasil menyiapkan alam pikiran
dan hati para hadirin untuk menyimak tausiyah yang akan disampaikan.
**Tausiyah: "Menggali Pesona Abadi Nabi Muhammad
SAW" oleh Ustadz Dimas Adista**
Puncak acara adalah ceramah agama yang disampaikan oleh
Ustadz Dimas Adista, seorang dai muda yang dikenal dengan gaya ceramahnya yang
komunikatif, renyah, dan penuh contoh-contoh konkret yang mudah dipahami oleh
kalangan remaja. Ustadz Dimas hadir ke SMP Labschool Jakarta, tampil sederhana
namun penuh wibawa.
Ustadz Dimas memulai ceramahnya dengan pertanyaan
provokatif, "Apa sih yang bikin Nabi Muhammad SAW itu begitu dikagumi,
bahkan oleh orang non-Muslim? Apa karena mukanya yang ganteng? Atau karena
kekayaannya? Ternyata bukan. Pesona beliau adalah pesona akhlak dan karakter
yang memancar dari dalam hati."
Dengan semangat, Ustadz Dimas memaparkan keindahan fisik
Rasulullah yang digambarkan dalam berbagai riwayat shahih. "Dalam sebuah
hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Rasulullah digambarkan memiliki wajah
yang bercahaya bagai bulan purnama. Postur tubuhnya tidak terlalu tinggi atau
terlalu pendek, proporsional. Rambutnya tidak terlalu keriting atau terlalu
lurus, dan ketika mencapai bahu, terurai dengan indah. Matanya yang hitam pekat
seakan memancarkan cahaya kebijaksanaan. Namun," tegas Ustadz Dimas,
"ketampanan lahiriah Nabi hanyalah satu aspek kecil dari kesempurnaan
beliau."
Bagian yang paling menarik perhatian para hadirin adalah
ketika Ustadz Dimas menceritakan sisi humanis Rasulullah dalam kehidupan rumah
tangga. "Nabi Muhammad adalah suami yang romantis dan penuh perhatian.
Beliau sering bercanda dan bergurau dengan istri-istrinya. Suatu ketika, Aisyah
RA bercerita bagaimana Nabi pernah berlomba lari dengannya dan terkadang Aisyah
yang menang, terkadang Nabi. Ini menunjukkan kelembutan dan kerendahan hati
beliau."
Ustadz Dimas melanjutkan dengan contoh lain yang membuat
para siswa tersenyum, "Nabi juga pandai memuji. Beliau pernah mengatakan
bahwa Aisyah adalah istri yang paling dicintainya. Beliau membantu pekerjaan
rumah, menjahit sendiri pakaiannya, dan tidak pernah sekalipun mengeluh. Inilah
teladan hubungan suami-istri yang harmonis—penuh kasih sayang, saling
menghormati, dan tidak lupa untuk menyisipkan canda tawa dalam
keseharian."
Namun, puncak dari ceramah Ustadz Dimas adalah ketika beliau
memaparkan kondisi dunia sebelum dan setelah kelahiran Rasulullah.
"Bayangkan, 14 abad yang lalu, dunia berada dalam kegelapan yang pekat.
Jazirah Arab tenggelam dalam kebodohan, perempuan dianggap sebagai barang yang
bisa diwariskan, bayi perempuan dikubur hidup-hidup karena dianggap aib. Perang
antar suku terjadi terus-menerus, hukum yang berlaku adalah hukum rimba—yang
kuat yang menang."
Ustadz Dimas kemudian menggambarkan transformasi dramatis
yang terjadi setelah kelahiran dan diutusnya Nabi Muhammad. "Lalu
datanglah seorang yatim piatu dari Mekah, membawa cahaya yang mengubah
segalanya. Masa jahiliyah yang gelap gulita bertransformasi menjadi peradaban
yang mengedepankan ilmu pengetahuan. Nabi memerintahkan umatnya untuk mencari
ilmu sampai ke negeri Cina. Keadilan ditegakkan—seorang bangsawan dan rakyat
jelata memiliki hak yang sama di depan hukum. Perempuan dimuliakan, mendapatkan
hak waris dan hak pendidikan. Perbudakan perlahan dihapuskan."
"Dengan bahasa yang mudah dipahami, Ustadz Dimas
menjelaskan, "Inilah pesona terbesar Rasulullah—bukan hanya ketampanan
fisiknya, bukan hanya kelembutannya pada keluarga, tetapi kemampuan beliau
untuk mengubah peradaban secara fundamental. Dari masyarakat yang biadab
menjadi masyarakat yang beradab, dari kegelapan menuju cahaya, dari kebodohan
menuju ilmu pengetahuan."
Ustadz Dimas menutup ceramahnya dengan pesan yang mengena,
"Anak-anakku, remaja-remaja hebat, pesona seperti inilah yang harus kalian
tiru. Jadilah agen perubahan di mana pun kalian berada. Mulailah dari hal
kecil—bantu teman yang kesulitan, hormati guru dan orang tua, jadilah pribadi
yang jujur dalam ujian, dan sebarkan kebaikan di media sosial. Itulah bentuk
nyata meneladani Rasulullah di zaman now."
Ceramah selama 45 menit tersebut disimak dengan antusias
oleh seluruh hadirin. Para siswa yang biasanya mudah terdistraksi, kali ini
duduk tenang dan fokus menyimak setiap kata yang diucapkan Ustadz Dimas. Banyak
yang mencatat poin-poin penting dalam buku mereka.
Suasana kehangatan dan ukhuwah benar-benar terasa hingga
acara berakhir sekitar pukul 09.30 WIB. Para peserta berpamitan dengan wajah
cerah, membawa pulang semangat baru untuk lebih meneladani kehidupan Rasulullah
dalam keseharian mereka. Acara Maulid Nabi tahun ini tidak hanya menjadi ritual
seremonial, tetapi benar-benar berhasil menanamkan nilai-nilai keteladanan Nabi
Muhammad kepada generasi muda.
Keren bgt dan bermanfaat
ReplyDeletebagus sekaliii
ReplyDeletekeren dan sangat informatif
ReplyDeletejujur bagus :P
ReplyDelete